LANDASAN TEORI
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian Konsep Diri dan Harga Diri Rendah
1.1. Pengertian Konsep Diri
Gangguan konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia ( Stuart & Sundeen. 1998 : 227 ).
Konsep diri terdiri atas komponen – komponen ini
a. Citra tubuh kumpulan dari sikap individu yang disadari atau tidak disadari terhadap tubuhnya. termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi. Yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan pengalaman yang baru.
a. Ideal diri persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berprilaku berdasarkan standar, aspirasi tujuan atau nilai personal tertentu.
b. Harga diri penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik perilaku seseorang sesuai dengan ideal diri. Harga diri yang tinggi adalah perasaanyang berakar dalam penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, kegagalan tetap merasa sebagai seorang yang penting dan berharga.
c. Penampilan peran serangkai pola perilaku yang diharapkan.oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial. peran yang di tetapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai pilihan. peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu.
d. Identitas personal pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikan individu. mempunyai konotasi otonomi dan meliputi persepsi seksualitas seseorang. pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang kehidupan tapi merupakan tugas utama pada masa remaja.
( Stuart & Sundeen, 1998 : 227 ).
1.2. Pengertian Harga Diri Rendah
Harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai, dengan cara menganalisis seberapa jauh perilaku individu tersebut sesuai dengan ideal diri. Harga diri didapat/ diperoleh melalui orang lain dan diri sendiri. Individu akan merasa berhasil atau hidupnya bermakna apabila diterima dan diakui orang lain / merasa mampu menghadapi kehidupan danmampu mengontrol dirinya. Individu yang sering berhasil dalam mencapai cita - cita akan menumbuhkan perasaan harga diri yang tinggi / sebaliknya. Akan tetapi pada umumnya individu memiliki tendensi negatif terhadap orang lain, walaupun isi hatinya mengakui keunggulan orang lain ( Sunaryo. 2004 : 34 ).
Menurut Sunaryo ( 2004 : 34 ) aspek utama harga diri dicintai, disayangi, dikasihi, orang lain dan mendapat penghargaan dari orang lain. Harga diri rendah apabila :
a. Kehilangan kasih sayang atau cinta kasih pada orang lain.
b. Kehilangan penghargaan dari orang lain.
c. Hubungan interpersonal yang buruk.
2. Stresor Pencetus
Menurut Stuart, Sundeen ( 1998. 232-233 ), stressor pencetus
ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal :
1. Trauma seperti penganiayaan seksual, dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan.
2. Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan di mana individu mengalaminya sebagai frustasi.
a. Transisi peran perkembangan adalah perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. perubahan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma- norma budaya, nilai-nilai dan tekanan untuk penyesuaian diri
b. Transisi peran situasi atau keluarga terjadi dengan bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c. Transisi sehat-sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit.Transisi ini mungkin dicetuskan oleh :
1. Kehilangan bagian tubuh.
2. Perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh.
3. Perubahan fisik berhubungan dengan tumbuh kembang normal.
4. Prosedur medis dan keperawatan.
3. Pohon Masalah
| Tidak efektifnya koping keluarga;ketidakmampuan anggota keluarga merawat anggota keluarga yang sakit |
| Tidak efektifnya penatalaksanaan regimen terapeutik |
| Gangguan Konsep diri ; Harga Diri Rendah |
| Defisit perawatan diri |
| Menurunnya motivasi perawatan diri |
| Isolasi sosial ; Menarik diri |
| Perilaku kekerasan |
| Tidak efektifnya koping individu |

Gambar 2.1
Skema Pohon Masalah
( Novy Helena,dkk.2001 )
Kesimpulan dari pohon masalah diatas yaitu tidak efektifnya koping keluarga; ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit menjadikan tidak efektifnya penatalaksanaan regimen terapeutik, sehingga menyebabkan individu menarik diri. Tidak efektifnya koping individu menyebabkan terjadinya gangguan konsep diri; harga diri rendah dan akhirnya individu menarik diri. Karena individu menarik diri menurunnya motivasi perawatan diri, dan muncullah defisit perawatan diri.
4. Sumber- sumber koping
Menurut Stuart, Sundeen ( 1998 : 233 ), semua orang betapapun terganggu perilakunya, tetap mempunyai beberapa kelebihan personal yang mungkin meliputi :
a. Aktivitas olah raga dan aktivitas lain diluar rumah.
b. Hobi dan kerajinan tangan.
c. Seni yang ekspresif.
d. Kesehatan dan perawatan diri.
e. Pekerjaan, vokasi dan posisi.
f. Bakat tertentu.
g. Kecerdasan.
h. Imaginasi dan kreativitas.
i. Hubungan interpersonal.
5. Mekanisme Koping
Mekanisme koping termasuk pertahanan koping jangka pendek dan jangka panjang serta pengunaan mekanisme perubahan ego untuk melindungi diri sendiri dalam menghadapi persepsi diri yang menyakitkan, ( Stuart & Sundeen. 1998 : 233 –234 ) dijabarkan :
a. Pertahanan jangka pendek termasuk berikut ini :
1. Aktivitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari krisis identitas ( misalnya : konser musik, bekerja keras, menonton televisi secara obsesif )
2. Aktivitas yang dapat memberikan identitas penganti sementara ( misal : olah raga yang kompetitif, pencapaian akademik, kontes untuk mendapatkan popularitas ).
3. Aktivitas yang secara sementara menguatkan perasaan diri ( misal : olah raga yang kompetitif, pencapaian akademik, kontes untuk mendapatkan popularitas ).
4. Aktivitas yang mewakili upaya jangka pendek untuk membuat masalah identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan individu ( misalnya penyalahgunaan obat ).
b. Pertahanan jangka panjang termasuk berikut ini
1. Penutupan identitas - adopsi identitas prematur yang diinginkan oleh orang yang penting bagi individu tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi, dan potensi diri individu tersebut.
2. Identitas negatif - asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh nilai dan harapan masyarakat.
Mekanisme pertahanan ego termasuk pengunaan fantasi disosiasi, projeksi, pergeseran, peretakan, berbalik marah terhadap diri sendiri , dan amuk ( Stuart & Sundeen. 1998. 233 - 234 )
6. Faktor Predisposisi
Faktor ini ( Stuart & Sundeen 1998, 229 ), dapat dibagi sebagai berikut :
a. Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain, dan ideal diri yang tidak realistis.
b. Faktor yang mempengaruhi penampilan peran adalah sterio peran seks, tuntutan peran kerja, dan harapan peran kultural.
c. Faktor yang mempengaruhi identitas personal meliputi ketidakpercayaan orang tua, tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan dalam struktur sosial.
7. Rentang Respon Konsep Diri

RENTANG RESPON KONSEP DIRI
RESPONS ADAPTIF RESPONS MALADAPTIF
![]() |
Aktualisasi Konsep Harga diri Kerancuan
Depersonalisasi
diri diri positif rendah identitas
Gambar 2.2. Rentang Respon Konsep Diri
( Stuart, Sundeen. 1998 : 230 )
a. Respon adaptif
Adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial, secara umum dan berlaku di masyarakat.
b. Respon maladaptif
Adalah respon yang masih tidak dapat diterima oleh norma-norma sosial, secara umum berlaku di masyarakat.
Respon konsep diri sepanjang rentang sehat- sakit berkisar dari status aktualisasi diri yang paling adaftif sampai status kerancuan identitas yang lebih maladaftif serta depersonalisasi ( gambar 2.1. ). Kerancuan identitas merupakan suatu kegagalan individu untuk mengintegrasikan sebagai identifikasi masa kanak- kanak ke dalam kepribadian psikososial dewasa yang harmonis. Depersonalisasi ialah suatu perasaan tak realistis dan keasingan dari diri sendiri. Ini berhubungan dengan tingkat ansietas panic dan kegagalan dalam pengujian realitas. Individu mengalami kesulitan untuk membedakan diri sendiri dari orang lain, dan tubuhnya sendiri merasa tidak nyata dan asing baginya ( Stuart & Sundeen. 1998. 228 - 229 ).
Menurut Stuart, Sundeen ( 1998 . 228 - 229 ), individu dengan ke-
pribadian yang sehat akan mengalami hal – hal sebagai berikut :
a . Citra tubuh yang positif dan sesuai.
b. Ideal diri yang realistik.
c. Konsep diri yang positif.
d. Harga diri yang tinggi.
e. Penampilan peran yang memuaskan.
f. Rasa identitas yang jelas.
8. Tanda dan Gejala
Tanda dan Gejala yang dapat di kaji ( Kumpulan Proses Kepera-
watan Jiwa, 1999 ) yaitu :
a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat terhadap tindakan penyakit, misal : malu dan sedih karena rambut menjadi botak setelah terapi sinar pada kanker.
b. Rasa bersalah pada diri sendiri, misal : ini tidak akan terjadi jika segera ke rumah sakit, menyalahkan, mengejek, atau mengkritik diri sendiri.
c. Merendahkan martabat, misal : saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya bodoh dan saya tidak tahu apa-apa.
d. Gangguan hubungan sosial seperti menarik diri, tidak mau bertemu dengan orang lain dan suka menyendiri.
e. Percaya diri kurang, klien sukar mengambil keputusan, misal : tentang memilih tindakan alternatif.
f. Mencederai diri akibat harga diri rendah disertai harapan yang suram mungkin klien ingin mengakhiri hidupnya.
Menurut Townsend C. Mary ( 1998 : 72 ), ada 7 tanda yang dapat dikaji pada klien harga diri rendah :
a. Perkembangan ego terbelakang.
b. Model-model peran negatif
c. Kekurangan umpan balik positif.
d. Umpan balik negatif berulang, berakibat pada berkurangnya nilai diri.
e. Hubungan orang tua-anak tidak memuaskan.
f. Lingkungan yang tidak terorganisir dan semrawut.
g. Penganiayaan dan pengabaian anak.
h. Disfungsi sistem keluarga.
Menurut Stuart & Sundeen ( 1998 : 230 ) perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah yaitu :
a. Mengkritik diri sendiri dan orang lain.
b. Penurunan produktivitas.
c. Destruktif yang diarahkan kepada orang lain.
d. Rasa diri penting yang berlebihan.
e. Perasaan tidak mampu.
f. Rasa bersalah.
g. Gangguan dalam berhubungan.
h. Mudah tersinggung.
i. Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri.
j. Ketegangan peran yang dirasakan.
k. Pandangan hidup yang pesimis.
l. Keluhan fisik.
m. Pandangan hidup yang bertentangan.
n. Penolakan terhadap kemampuan personal.
o. Destruktif terhadap diri sendiri.
p. Pengurangan diri.
q. Menarik diri secara sosial.
r. Penyalahgunaan zat.
s. Menarik diri dari realitas.
t. Khawatir
Tabel 2.3 Perilaku yang Berhubungn Dengan Harga Diri Rendah
( Stuart & Sundeen. 1998 : 230 )

PERILAKU YANG BERHUBUNGAN DENGAN HARGA
DIRI YANG RENDAH
Mengkritik diri sendiri dan / orang lain
Penurunan produktivitas
Destruktif yang diarahkan pada orang lain
Gangguan dalam berhubungan
Rasa diri penting yang berlebihan
Perasaan tidak mampu
Rasa bersalah
Mudah tersinggung dan marah yang berlebihan
Perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri
Keteangan peran yang dirasakan
Pandangan hidup yang pesimis
Keluhan fisik
Pandangan hidup yang bertentangan
Penolakan terhadap kemampuan personal
Destruktif terhadap diri sendiri
Menarik diri secara sosial
Penyalahgunaan zat
Menarik diri dari realitas
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengertian Asuhan Keperawatan dan Asuhan Keperawatan Jiwa.
1.1. Pengertian Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan dalam bentuk pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif ditujukan pada individu baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia.
1.2. Pengertian Asuhan Keperawatan Jiwa
Asuhan keperawatan jiwa adalah proses yang interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mengkontribusi pada fungsi yang terintegrasi. ANA ( American Nurses Association ) mendefinisikan keperawatan kesehatan mental dan psikiatrik sebagai suatu bidang spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri secara terapeutik sebagai kiatnya ( Stuart & Sundeen. 1998 : 3 ).
2. Proses Keperawatan
2.1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari beragai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien ( Nursalam, 2001 : 17 )
Menurut Keliat, B.A ( 1998 : 3 ) Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. data yang dikumpulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pengelompokan data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan pemeriksaan fisik.
Isi pengkajian meliputi :
a. Identitas klien
Nama ( inisial ), umur, tanggal masuk, tanggal peng kajian, informan dan nomor RM.
b. Keluhan utama / alasan masuk
Apa yang menyebabkan klien masuk rumah sakit, apa yang telah dilakukan oleh keluarga untuk mengatasi masalah klien dan bagaimana hasilnya.
c. Faktor predisposisi
Apakah klien pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu, pengobatan apa yang pernah dilakukan dan bagaimana hasilnya, apakah klien pernah mela kukan atau mengalami atau menyaksikan pengania yaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kek erasan dalam keluarga dan tindakan kriminal, apakah ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, apakah ada pengalaman yang tidak menyenang kan ( kegagalan, kehilangan / kematian, trauma sel ama tumbuh kembang ) yang pernah dialami klien.
d. Fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan klien mengalami ansietas / cemas yang dapat berakibat klien menjadi tidak nafsu makan, berat badan menurun, dapat pula terjadi kurangnya devisit perawatan diri yang menjadikan klien malas mandi, bau, dan kotor.
Pengkajian fisik difokuskan pada system dan fungsi organ, meliputi : ukur tanda - tanda vital ( tekanan darah, nadi, suhu, RR ) ukur tinggi badan dan berat badan klien, tanyakan apakah ada keluhan fisik yang dirasakan oleh klien.
e. Psikososial
1. Genogram
Pembuatan genogram minmal tiga generasi yang dapat menggambarkan hubungan klien dan keluarga, jelaskan masalah yang terkait dengan komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.
2. Konsep diri
a. Citra tubuh
Persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang di sukai dan tidak disukai.
b. Identitas diri
Status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status dan posisinya ( sekolah, tempat kerja, kelompok ), kepuasan klien sebagai laki - laki atau perempuan.
c. Peran
Tugas / peran yang diemban dalam keluarg / kelompok atau masyarakat dan kemampuan klien dalam melaksanakan tugas / perannya tersebut.
d. Ideal diri ( persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berperilaku )
Harapan klien terhadap tubuh, posisi, status, tugas / peran, lingkungan ( keluarga, sekolah, tempat kerja, masyarakat ) dan harapan klien terhadap penyakitnya.
e. Harga diri
Hubungan klien dengan orang lain sesuai dengan kondisi No. 2 a, b, c, d, dan penilaian / penghargaan orang lain terhadap diri dan kehidupan klien.
3. Hubungan sosial
Tanyakan pada klien siapa orang terdekat dalam kehidupannya, tempat mengadu, tempat bicara, minta bantuan atau sokongan, kegi atan apa saja yang diikuti klien dimasyarakat dan sejauh mana klien terlibat dalam kegiatan tersebut.
4. Spiritual
Tanyakan tentang nilai dan keyakinan klien terhadap agama yang dianut serta kegiatan ibadah klien.
f. Status mental
1. Penampilan
Kerapian penampilan, penggunaan dan ketepatan penggunaan pakaian.
2. Pembicaraan
Cepat, keras, gagap, membisu, apatis atau lambat, inkoheren atau koheren.
3. Aktivitas motorik
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat / keluarga meliputi : keadaan lesu, tegang, gelisah, adanya agitasi, tremor dan kompulsif.
4. Alam perasaan
Data ini didapatkan melalui hasil observasi perawat / keluarga meliputi : perasaan sedih, putus asa, gembira, ketakutan dan khawatir.
5. Afek ( emosi yang kuat pada pasien yang dapat diobservasi oleh perawat selama wawancara ) Data ini didapatkan melalui : afek datar, tumpul, labil
dan tidak sesuai.
6. Interaksi selama wawancara
Data ini didapatkan melalui hasil wawancara dan observasi Selama wawancara, meliputi sikap bermusuhan, tidak kooperatif, mudah tersinggung, kontak mata kurang defensif dan curiga.
7. Persepsi
Tanyakan tentang jenis-jenis halusinasi yang sudah jelas, jelaskan isi halusinasi yang sudah terjadi, frekuensi gejala yang tampak pada saat klien berhalusinasi.
8. Proses pikir
Data diperoleh dari observasi pada saat wawancara, meliputi sirkumstansial, tangensial, kehilangan asosiasi, flight of ideas, bloking, dan perseverasi.
9. Isi pikir
Data didapatkan melalui wawancara, meliputi : obsesi, phobia, hipokondria, depersonalisasi, ide yang terkait.
10. Tingkat kesadaran
Orientasi klien ( waktu, tempat, orang ) bingung, sedasi, stupor.
11. Memori
Gangguan daya ingat jangka pamjang, gangguan daya ingat jangka pendek, gangguan daya ingat saat ini dan konfabulasi.
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Mudah dialihkan, tidak mampu berkonsentrasi, tidak mampu berhitung.
13. Kemampuan penilaian
Berikan pilihan tindakan yang sederhana apakah klien membuat keputusan sendiri atau dibantu.
14. Daya tilik diri
Klien mengingkari penyakitnya atau menerima penyakitnya, menyalahkan orang lain atas penyakitnya.
g. Kebutuhan persiapan pulang
Observasi dan tanyakan kemampuan klien untuk makan, mandi, BAB / BAK, berpakaian, istirahat dan tidur, penggunaan obat, pemeliharaan kesehatan, aktivitas didalam dan diluar.
h. Mekanisme koping
Tanyakan tentang koping klien dalam mengatasi masalah baik yang adaptif maupun maladaptif.
i. Masalah psikososial dan lingkungan
Apakah ada masalah dengan dukungan kelompok, lingkungan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, ekonomi, dan ekonomi dan pelayanan kesehatan.
j. Pengetahuan
Mengkaji kurang pengetahuan klien tentang penyakit jiwa, faktor presipitasi.
k. Aspek medik
Tuliskan diagnosa medik klien dan obat - obatan klien saat ini, baik obat fisik, spikofarmaka, dan terapi.
2.2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respons manusia ( status kesehatan / resiko perubahan pola ) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akontabilitas dapat mengidentifikasikan dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, mengatasi, mencegah, dan merubah. Nanda menyatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah “Keputusan Klinik tentang respon individu, keluarga, dan masyarakat tentang masalah kesehatan actual / potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan kepe rawatan sesuai dengan kewenangan perawat” ( Nursalam. 2001 : 35 ).
Daftar masalah / diagnosa keperawatan yang sering muncul ( Novy Helena, dkk, 2001 ) adalah :
a. Perubahan persepsi sensori ; halusinasi.
b. Isolasi sosial ; menarik diri.
c. Gangguan konsep diri ; harga diri rendah.
d. Tidak efektifnya koping individu.
e. Defisit perawatan diri.
f. Menurunnya motivasi perawatan
g. Perilaku kekerasan.
h. Tidak efektifnya penatalaksanaan regimen terapeutik.
j. Tidak efektifnya koping keluarga, ketidakmampuan keluarga
merawat anggota keluarga yang sakit.
2.3. Perencanaan / Intervensi Keperawatan
Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi, atau mengoreksi masalah - masalah yang diidentifikasi pada diagnosa keperawatan. Tahap ini dimulai setelah melakukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi ( Nursalam. 2001 : 51 ).
Rencana tindakan disesuaikan dengan standar asuhan keperawatan jiwa Indonesia atau standar keperawatan Amerika yang membagi karakteristik tindakan berupa : tindakan konseling, pendidikan kesehatan, perawatan mandiri dan aktivitas hidup sehari - hari, terapi modalitas keperawatan, perawatan berkelanjutan
( continuity - care ), tindakan kolaborasi ( terapi somatik dan psikofarmaka ).
Tindakan keperawatan menggambarkan tindakan perawat yang mandiri, kerjasama dengan klien, bekerjasama dengan keluarga / kelompok dan kolaborasi dengan tim kesehatan jiwa yang lain.
a. Isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
( Novy Helena,dkk. 2001 ).
| NO | Hari/Tanggal | Diagnosa keperawatan | Tujuan | Kriteria | Intervensi | |
| 1. | | Isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah | TUM: Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal. TUK 1: Klien dapat membina hubungan saling percaya. TUK 2 Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki. TUK 3 Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan. TUK 4 Klien dapat ( menetapkan ) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki TUK 5 Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya. TUK 6 Klien dapat memanfaatkan system pendukung yang ada. | 1.1 Kriteria Evaluasi Setelah 3X pertemuan klien dapat menunjukan ekspresi wajah bersahabat menunjukan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebut nama, mau menjabat salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi. 2.1. Kriteria evaluasi Setelah 4x pertemuan klien mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki : a. Aspek intelektual b. Aspek sosial budaya c. Aspek fisik d.Aspek emosional / kepribadian klien 3.1. Kriteria evaluasi Setelah 6X pertemuan klien dapat menyebutkan kemampuan yang dapat digunakan. 4.1. Kriteria Evaluasi Setelah 7X pertemuan klien membuat rencana kegiatan harian. 5.1. Kriteria Evaluasi Setelah 10X pertemuan klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya. 6.1. Kriteria Evaluasi Setelah 12X pertemuan klien dapat memanfaatkan system pendukung yang ada di keluarga. | 1.1.1. Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terapeutik : a.Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal b.Perkenalkan diri dengan sopan. c.Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien. d.Jelaskan tujuan pertemuan. e.Jujur dan menepati janji. f.Tujuan sikap empati dan menerima klien apa adanya. g.Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien. 2.1.1Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien 2.1.2. Setiap bertemu klien dihindari memberi penilaian negatif. 2.1.3. Utamakan memberi pujian yang realistik. 3.1.1Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit. 3.1.2Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan penggunaannya. 4.1.1Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampun : a. Kegiatan mandiri b.Kegiatan dengan bantuan sebagian c.Kegiatan yang membutuhkan bantuan total 4.1.2. Tingkat kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien. 4.1.3Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan. 5.1.1Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan. 5.1.2. Beri pujian atas keberhasilan klien. 5.1.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah. 6.1.1Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah. 6.1.2. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien di rawat 6.1.3. Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah. | |
b.Diagnosa keperawatan : Gangguan harga diri.
Hasil yang di harapkan : Klien akan mencapai tingkat aktualisasi diri yang maksimal untuk mengakui potensi dirinya.
| Tujuan Jangka Pendek | Intervensi | Rasional |
| Klien akan membina hubungan terapeutik dengan perawat. Pasien akan mengekpresikan perasan, perilaku, dan pikiran yang berhubungan dengan situasi stress yang ada sekarang. Pasien akan mengevaluasi konsekuensi positif dan negative dari respons konsep diri. | 1. Perkuat identitas klien 2. Berikan dukungan untuk Mengurangi tingkat ansietas panik. 3. Tetapkan batasan terhadap perilaku yang tidak sesuai. 4. Bantu apapun kekuatan ego yang ditujukan pasien. 5. Kuatkan perilaku adaptif. 1. Bantu pasien mengidentifikasi kekuatan diri dan kelemahannya,ideal diri,serta kritik diri. 2. Bantu pasien untuk mengekspresikan dan menggambarkan perasaan serta pikirannya. 3. Berespon dengan empati, tekankan bahwa kekuatan untuk berubah tergantung pada pasien sendiri. 1. Identifikasi stressor yang relevan dan penilaian pasien terhadap stressor tersebut. 2. Klarifikasi keyakinan yang salah dan distorsi kognitif. | 1.Kebersamaan diperlukan bagi pasien untuk bertanggungjawab terhadap perilakunya. 2.Beberapa tingkat integritas ego diperlukan untuk intervensi selanjutnya. 1. Pengungkapan diri dan pemahaman diperlukan untuk berubah. 2. Penggunaan simpati adalah tidak terapeutik karena dapat menguatkan rasa kasihan pasien terhadap dirinya sendiri. 3. Perawat seharusnya mengkomunikasikan bahwa pasien sebagai pengendali. 1. Hanya setelah masalah dijabarkan, pilihan alternative dapat diperiksa. Selanjutnya perlu untuk mengevaluasi konsekuensi positif dan negatif dari pola terakhir. |
| Tujuan Jangka Pendek | Intervensi | Rasional |
| Pasien akan mengidentifikasi satu tujuan baru dan dua respons koping yang adaptif. Pasien akan mengimplementasikan respons konsep diri adaptif yang baru. | 1. Dukung pasien untuk merumuskan tujuan baru. 2. Bantu pasien menjabarkan secara jelas perubahan yang diinginkan. 3. Pergunakan pelatihan peran, contoh peran dan visualisasi untuk mempraktekkan perilaku baru. 1. Beri kesempatan pada pasien untuk mengalami kebersihan. 2. Dukung kekuatan, keterampilan dan respon koping yang adaptif. 3. Beri pasien waktu yang cukup untuk berubah. 4. Tingkatkan keterlibatan keluarga dan kelompok. 5. Beri sejumlah dukungan yang sesuai dan positif bagi pasien untuk mempertahankan kemajuan dan pertumbuhannya. | 1. Hanya setelah menggali alternatif perubahab dapat terjadi 2.Penetapan tujuan menjelaskan sifat perubahan dan menyarankan strategi perilaku baru yang memungkinkan. 1. Tujuan utama dalam peningkatan penghayatan pasien adalah membuatnya menggantikan respons koping maladaptif dengan yang lebih adaptif. |
2.4 Implementasi Keperawatan
Penatalaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan di susun dan di tujukan pada nursing oders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan
( Nursalam. 2001 : 63 ).
Implementasi tindakan keperawatan di sesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. pada situasi nyata sering implementasi jauh berbeda dengan rencana. Hal ini terjadi karena perawatan belum terbiasa menggunakan rencana tertulis dalam melaksanakan tindakan keperawatan. yang biasa adalah rencana tindakan yaitu apa yang di pikirkan, di rasakan, itu yang di laksanakan. Hal ini sangat membahayakan klien dan perawat jika berakibat fatal, dan juga tidak memenuhi aspek legal.
2.5. Evaluasi Tindakan Keperawatan
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan sudah berhasil di capai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor “kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan. ( Nursalam. 2001 : 71 ).
2.6. Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan adalah suatu catatan yang memuat seluruh informasi yang dibutuhkan untuk menentukan diagnosis keperawatan melaksanakan dan mengevaluasi tindakan keperawatan yang di susun secara sistematis, valid, dapat di pertanggungjawab kan secara moral dan hukum ( Zaidin Ali. 2001.87 ).
